Tampilkan postingan dengan label dududu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dududu. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2009

Antara Caleg dan Capres...

ada yang namanya Capeng alias calon pengangguran.

NAAAAAAHH...
Itulah saya, Temans... :)


Selamat mencontreng!

Selasa, 15 April 2008

basian Ayat-Ayat CInta yang basi!




inilah muka-muka basian.

Kamis, 10 Mei 2007

I am Peter Petrelli



Buat yang belum nonton, Peter Petrelli adalah nama yang
sering disebut-sebut orang karena keadaannya masih gantung, mati atau hidup. Peter
Petrelli adalah tokoh di serial HEROES yang memiliki kekuatan seperti karakter
lainnya. Tapi… Kekuatan si Peter ini ngga sedahsyat yang lain. Kalo karakter
lain punya kekuatan yang signifikan, nah si Peter ini kekuatannya agak ‘bencong.’
Karena kalo dia lagi deket sama kakaknya yang bisa terbang, dia bisa terbang. Kalo
dia deket sama si cheerleader yang
ngga bisa mati, ya dia juga ikutan ngga bisa mati. Yaaa… bencong deh pokonya.




Begitu juga dengan saya.




Dulu, (mantan) bos gue pernah bilang kalo lingkungan kerja
itu mempengaruhi kita. Ya cara kerja kita, ya pola pikir kita. Makanya jangan
sembarang cari tempat kerja. Saya yang masih seumur jagung nyemplung di dunia
kerja, setengah percaya sama omongannya. Tapi emang dasar dableg, saya ngga terlalu meresponnya. Ternyata saudara-saudara…
itu benar! Kalo lingkungan sekitar kita kreatif, kita jadi ikutan kreatif. Kalo
lingkungan sekitar kita working pace-nya
(caela!) tinggi, kita jadi ikutan cepet kerjanya.




Itu yang saya rasakan sekarang. Sedikit demi sedikit, saya
ngerasa cara kerja saya kok ngawur
ya? Tadinya emang udah ngawur, tapi
kok sekarang makin ya? Sama kasusnya kalo sampe si Peter ini ketemu sama yang
punya kekuatan mengeluarkan zat radioaktif kapan pun dia mau. Kalo gak bisa
mengontrol, bisa-bisa si Peter meledak! Sama juga sama saya. Kalo ngga
dikontrol dengan baik, lama-lama ikut arus jadinya. Bagus kalo arusnya baik,
kalo arusnya buruk… Naaah… itu yang lagi diusahain sama para HEROES biar ngga
terjadi. Begitupula dengan saya. Lagi ngusahain gimana biar kebawanya sama arus
yang baik-baik ajah, bedanya ngga dibantuin sama HEROES yang lain. Yang bisa bantuin
ya cuma diri sendiri.




Setelah dipikir-pikir lagi, kekuatan Peter Petrelli inilah
yang paling manusiawi. Dia menyerap semua kekuatan yang pernah dia temui. Kita pun
begitu, menyerap semua ilmu, kata-kata, cara kerja, bahkan cara bicara semua
orang yang kita temui. Sekarang si Peter lagi diuji. Bisa ngga dia
mengendalikan kekuatannya itu? Bisa ngga kita mengendalikan kekuatan kita itu? Kalo
bisa,
not only we can save the
cheerleader, but we can save the world!










Senin, 04 September 2006

Anjing dan Gong-Gong

alkisah, di Negeri Seribu Gong. namanya saja Negeri Seribu Gong, ada ribuan gong di sana. hampir setiap rumah memiliki gong. karena gong dianggap sebagai alat musik suci. hanya digunakan untuk perayaan besar, seperti festival musim panen atau festival tahun baru. tidak ada satu pun gong yang dibunyikan di hari biasa. mereka sangat menjaga kesakralannya.


seorang bocah lelaki meratapi anak anjingnya yang baru lahir. tubuhnya begitu kecil dan gemetaran, darah di tubuhnya dijilati oleh ibunya. si bocah menitikkan air mata. di antara saudara-saudara anjing kecil itu, hanya ia yang tidak mengeluarkan suara. anjing itu bisu. sejak saat itu, si bocah selalu mengajak anjing kecilnya ke mana pun ia pergi. bukan hanya itu, ia juga mengajarkan si anjing untuk bersuara. tapi tidak bisa.


anjing itu pun tumbuh menjadi anjing yang sangat aktif. lebih aktif dari anjing-anjing biasa. dan sangat membantu majikannya. ia membantu majikannya mengangkat beras dagangan ke pasar. juga menggiring domba dari kandang ke bukit, meskipun ia tidak punya suara. ia kini jadi anjing kesayangan semua orang.


suatu hari, tidak ada angin, tidak aja hujan, gong berbunyi. hal ini menggemparkan seisi Negeri Seribu Gong. tidak ada yang boleh membunyikan gong di hari biasa. siapapun yang membunyikan gong ini akan dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.


semua rakyat sibuk mencari datangnya suara gong yang bertubi-tubi itu hingga ke pelosok negeri. hingga akhirnya di perbatasan negeri, si anjing bisu itu ditemukan sedang mengadukan kepalanya ke gong berkali-kali. rakyat yang melihatnya langsung mengangkatnya beramai-ramai. ia diusung hendak dibawa ke kerajaan untuk dihukum. saat rakyat berama-ramai mengusungnya menjauhi perbatasan, seorang rakyat lain berteriak. katanya ia menemukan darah dan sebuah kereta yang terbalik.


si bocah, majikan si anjing, tertimpa kereta. ia tidak bisa bergerak. tubuhnya kejang-kejang. darah di mana-mana. rakyat yang mengusung si anjing itu langsung berusaha mengangkat kereta itu dan membawa si bocah ke tabib.


si bocah kini dalam kondisi kritis. ia kehilangan banyak darah.


si anjing nasibnya kini di ujung tanduk. ia harus menghadapi hukuman mati.


 


hari berganti hari dan si anak tak kunjung pulih. si anjing tetap bersalah. semua orang menyalahkannya atas kecelakaan itu. terlebih lagi karena ia memukul gong dengan kepalanya. bahkan orang tua si bocah menyerahkannya ke pengawal istana begitu saja. mereka menganggap kecelakaan yang dialami anaknya adalah kesalahan si anjing. padahal tak ada satu pun dari mereka yang berada di sana, menyaksikan kejadiannya. semua hanya asumsi dan persepsi.


si anjing pun semakin dekat dengan hari penghukumannya. ia pun semakin kurus. bukan karena hukuman yang akan dijalani, tapi karena ia tidak diperbolehkan bertemu dengan si bocah. ia tidak tahu keadaan si bocah. setiap kali melihat keluar jeruji jendela, ia berharap sosok mungil itu ada di sana, mengajaknya bermain lagi, seperti dulu. tapi sosok yang ia tunggu tak pernah muncul. ia hanya melihat hari berganti, lagi dan lagi.


hingga suatu hari, saat gong berbunyi, saatnya ia dihukum mati. si anjing dibawa keluar oleh pengawal istana. di halaman istana berkumpul seluruh rakyat ingin menyaksikan saat-saat penting ini.


si anjing digiring ke altar. di sana berdiri pemanah handal Negeri Seribu Gong yang siap melakukan eksekusi. si anjing yang diikat berdiri di depan. ia sudah di dalam bidikan para pemanah. saat itu, dari kejauhan terlihat sosok mungil yang ia nantikan selama ini. si bocah berlari dari arah kerumunan rakyat, menuju altar, menghampirinya. si anjing nampak senang sekali. ia membuka mulutnya lalu mengeluarkan suara untuk pertama kali dalam hidupnya, saat gong-gong berbunyi.


***


di rumah kecil di Negeri Seribu Gong, seorang anak kecil menghembuskan napas terakhirnya, tersenyum.


di atas altar, seekor anjing bisu menggong-gong di tengah bunyi gong, untuk pertama dan terakhir kali dalam hidupnya.