Senin, 30 Maret 2009

Dragonball: Evolution

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Apa ya?
Pokoknya tidak seburuk yang dibayangkan (Berarti bayangan gue parah banget!).
Menghibur (Ya haruslah).
Meski casting karakter mengecewakan.
Tapi Chow Yun Fat tidak.
Mungkin mengecewakan untuk beberapa penggemarnya, kenapa dia harus main di film kacangan ini.
Tapi produsernya Stephen Chow...
Tapi tidak ada yang tahu juga.
Seandainya mereka menggarapnya seperti Lord Of The Rings,
pasti lebih yahud.

Secara keseluruhan,
tidak rugi karena nonton di Blok M Square cuma Rp 15.000...

Antara Caleg dan Capres...

ada yang namanya Capeng alias calon pengangguran.

NAAAAAAHH...
Itulah saya, Temans... :)


Selamat mencontreng!

Minggu, 29 Maret 2009

Hari Istimewa Versi Saya Saja

Jalan-jalan tanpa arah. Mencari sesuatu yang menarik. Atau menemukan sesuatu yang baru. Jalan-jalan tanpa tujuan tertentu. Hanya mengikuti mood dan ke mana kaki ingin melangkah saja.

Tak perlu direncanakan. Tak perlu arah tujuan. Hanya teman seperjalanan dengan keinginan yang sama.

Berbekal kamera saku dan perbincangan tidak penting. Satu hari seakan enggan untuk diakhiri. Tapi bila saatnya hari berakhir, pikiran segar, ide-ide aneh (yang pada akhirnya tidak tereksekusi juga) serta foto-foto yang siap di upload di Facebook adalah oleh-olehnya.

Lebih sempurna bila dilakukan setelah sebulan penuh kepenatan dalam pekerjaan. Biasa disebut sebagai "Hari Melarikan Diri."

*Bersandar di kursi kantor yang keras sambil memikirkan kapan jadwal berikutnya...

Rabu, 25 Maret 2009

The Rocker

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
"Oke. Satu lagi film gak penting yang isinya pasti bikin ketawa maksa..."

Baiklah, saatnya berhenti menghakimi sesuatu hanya dari kulit luarnya. Saya pikir ini adalah bualan Jack Black yang lain. Ternyata ini sama sekali bukan Jack Black.

Namanya Fish (Rainn Wilson). Drummer handal band metal, Vesuvius, beraliran KISS dkk, yang tiba-tiba aja ditendang keluar oleh anggota lainnya, hanya karena produser yang mau mengontrak mereka ingin memasukkan keponakannya yang konon juga seorang drummer.
Selama 20 tahun Fish luntang-luntung, diputusin pacar, dipecat kantor. Membawanya kembali ke rumah kakak perempuannya yang punya 2 anak, laki-laki ABG nerd dan perempuan yang annoying luar biasa.
Si ABG Nerd ini, Matt, adalah anggota satu band, A.D.D., yang mau main perdana di Prom Night. Ceritanya drummer mereka dihukum tidak boleh keluar rumah oleh ibunya, sehingga Matt harus memohon pamannya, Fish, untuk menggantikan posisi drummer.
Inilah kali pertama Fish bermain untuk band emo/alternatif/whatever milik keponakannya itu. Karena wajah vokalis yang kyut selain mahir mencipta lagu, band ini dengan mudah melesat. Setelah sebelumnya video latihan mereka, di mana sang paman berlatih tanpa celana, tersebar di YouTube, jejaring andalan untuk jadi terkenal.
Meskipun mereka terkenal karena "The Naked Drummer", tetapi lagu-lagunya lumayan untuk ukuran ABG...

Overall, lumayan untuk mengisi malam minggu daripada manyun... nyun nyun nyun...

Minggu, 15 Februari 2009

Seven Pounds

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Ben Thomas, auditor pajak (IRS), memiliki misi untuk mendonasikan organ tubuhnya kepada 7 orang yang benar-benar membutuhkan. Hal ini ia lakukan setelah mengalami kecelakaan yang menewaskan 7 orang termasuk istrinya. Sebagai wujud penebusan dosa.

Pria misterius ini harus melalui berbagai riset dan melakukan pendekatan dengan orang-orang yang terpilih, dibantu oleh sahabatnya, Dan.

Ia pun nyaris membatalkan niatnya saat jatuh cinta dengan Emily Posa, wanita yang masuk dalam daftarnya.

Alur yang maju mundur membuat kita sulit untuk membangun emosi dan mengkaitkan satu peristiwa, satu orang dengan yang lain. Tidak seperti Pursuit of Happyness yang mengalir begitu saja.

Meskipun begitu, perlu diakui bahwa adegan intim Will Smith dan Rosario Dawson adalah adegan intim paling indah yang pernah saya lihat.

Sayang, saya sudah nonton Benjamin Button. Sulit rasanya untuk menyebut satu film bagus lagi... (sigh)

Generasi Biru

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Other
Inilah bagian paling menyenangkan menjadi media. Selalu menjadi sasaran utama untuk preview film sebelum beredar di publik.

Kali ini saya diajak teman untuk menonton film fenomenal karya Garin Nugroho yang teranyar, yang pasti sudah dinantikan oleh para SLANKERS, Generasi Biru.

Yah, bentuknya adalah film. Tapi bila Anda mengharapkan sebuah cerita yang lengkap dengan naik-turun-klimaks-ending, maka sulitlah untuk dikatakan sebagai sebuah film. Karena absennya skenario dalam proses pembuatan.

Lantas, apakah isinya?

Kumpulan dokumentasi SLANK dan para SLANKERS di seluruh Indonesia (hingga Timor Leste) yang diselingi dengan permainan grafis dan claymation sebagai simbolisasi masalah negeri ini. Yang terbungkus apik dalam lugasnya lirik-lirik SLANK dan seni tari garapan Jecko serta beberapa penari profesional lainnya. Membuat Anda berpikir begitu meninggalkan teater, "Ini bener bikinan Garin Nugroho??". Tentu saja selain... "Kaka seksi banget yaaah...".

Tapi beginilah cara SLANK menginterpretasikan 25 tahun perjalanan karir mereka di bumi Indonesia. Perjalanan yang berjalan sejajar dengan perubahan kondisi sosial ekonomi negara ini. Tidak heran bila film ini sarat dengan potongan-potongan adegan yang kerap kita lihat di berita TV nasional.

Film segar ini seakan ingin mengajak rakyat Indonesia untuk berkomunikasi tanpa berdialog.

Jadi, ayo berkomunikasi 19 Februari ini!

JERMAL

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Serius. Ini bukan film dokumenter. Tidak juga semi dokumenter. Meskipun proses syuting langsung dilakukan di atas jermal di tengah laut Deli Serdang. Film ini benar-benar film paling serius yang pernah saya lihat selama ini. Mulai dari proses penulisan script hingga syuting, tidak heran menghabiskan waktu kurang lebih 2 tahun untuk bisa selesai dan ditonton oleh publik.

***

Jermal, tempat penangkaran ikan di tengah laut, adalah latar belakang kisah ayah dan anak yang jauh dari kesan biasa saja ini. Johan, kepala jermal yang bertangan dingin ini mendapat kejutan dengan datangnya seorang anak laki-laki mengenakan seragam SMP, lengkap dengan tas dan buku-bukunya. Namanya Jaya. Menurut surat yang ia beri kepada Johan, ia adalah anak kandungnya.
Kehidupan di tengah lautan ala jermal memang mengasingkan penghuninya dari peradaban yang berpusat di darat. Satu-satunya kapal yang akan menepi adalah perahu yang akan mengangkut ikan-ikan untuk dijual ke pasar, selain kapal patroli untuk mencari anak-anak di bawah umur yang dipekerjakan.
Inilah yang membuat kehidupan di sana keras. Karena untuk merasakan air tawar saja mereka harus menampung air hujan. Belum lagi ajang pemalakan yang kerap terjadi di dalamnya, hanya untuk menunjukkan siapa yang berkuasa.
Maka wajar apabila Jaya, seorang anak sekolah biasa yang memiliki kehidupan normal, menjadi syok harus berusaha keras untuk beradaptasi. Apalagi sang ayah yang otoriter dan jarang berbicara mengisyaratkan penolakan terhadapnya. Tidak jarang ia berpikir untuk kabur. Satu kali ia mengayuh bak mandi sekuat tenaga tetapi jarak yang membentang seakan memakan bak mandi itu bahkan sebelum ia sampai di pertengahan.
Pengalaman-pengalaman inilah yang menempanya dan membuatnya menjadi kuat. Saking kuatnya, ia pun berubah menjadi beringas. Konsekuensi hidup telah membuatnya jauh sekali dari Jaya yang sebelumnya... yang sesungguhnya.
Perubahan ini membuat Johan sadar dan mulai menelusuri keberadaan Jaya dari surat-surat yang kerap dikirim istrinya selama 12 tahun lamanya. Surat-surat yang masih tertata rapi di dalam amplop yang tertutup rapat hingga hari itu.
Tapi apakah Jaya masih mau menerima bahkan mengakui Johan sebagai ayah kandungnya? Itu adalah tugas baru Johan untuk kembali menjadi manusia yang mengindahkan norma dan moral, untuk menjadi seorang ayah yang baik bagi Jaya.

***

Banyak isu sosial yang diangkat dengan simbolisasi-simbolisasi. Seperti sumpal telinga yang selalu dikenakan Johan setiap malam sebelum tidur, sebagai wujud ketidakpeduliannya terhadap peristiwa di luar kubik nyamannya. Atau pun kehadiran Bandi, asisten Johan yang tuna rungu tapi justru lebih bawel daripada Johan. Hingga isu anak di bawah umur yang pernah menjadi sorotan ILO beberapa tahun silam.
Memang ini bukan kisah nyata, tetapi usaha mereka untuk membuatnya senyata mungkin patut untuk diacungi jempol.
Bila film cinta telah membuat Anda muak dan menumbuhkan antipati dalam diri, melihat interaksi ayah dan anak ini akan mencairkannya kembali dengan menghadirkan bentuk cinta yang sesungguhnya, secara sederhana, tanpa rekayasa.

Bila tiba saatnya hadir di bioskop, 12 Maret 2009, saya pasti akan kembali mengantri dan menikmatinya sekali lagi.