Minggu, 15 Februari 2009

JERMAL

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Serius. Ini bukan film dokumenter. Tidak juga semi dokumenter. Meskipun proses syuting langsung dilakukan di atas jermal di tengah laut Deli Serdang. Film ini benar-benar film paling serius yang pernah saya lihat selama ini. Mulai dari proses penulisan script hingga syuting, tidak heran menghabiskan waktu kurang lebih 2 tahun untuk bisa selesai dan ditonton oleh publik.

***

Jermal, tempat penangkaran ikan di tengah laut, adalah latar belakang kisah ayah dan anak yang jauh dari kesan biasa saja ini. Johan, kepala jermal yang bertangan dingin ini mendapat kejutan dengan datangnya seorang anak laki-laki mengenakan seragam SMP, lengkap dengan tas dan buku-bukunya. Namanya Jaya. Menurut surat yang ia beri kepada Johan, ia adalah anak kandungnya.
Kehidupan di tengah lautan ala jermal memang mengasingkan penghuninya dari peradaban yang berpusat di darat. Satu-satunya kapal yang akan menepi adalah perahu yang akan mengangkut ikan-ikan untuk dijual ke pasar, selain kapal patroli untuk mencari anak-anak di bawah umur yang dipekerjakan.
Inilah yang membuat kehidupan di sana keras. Karena untuk merasakan air tawar saja mereka harus menampung air hujan. Belum lagi ajang pemalakan yang kerap terjadi di dalamnya, hanya untuk menunjukkan siapa yang berkuasa.
Maka wajar apabila Jaya, seorang anak sekolah biasa yang memiliki kehidupan normal, menjadi syok harus berusaha keras untuk beradaptasi. Apalagi sang ayah yang otoriter dan jarang berbicara mengisyaratkan penolakan terhadapnya. Tidak jarang ia berpikir untuk kabur. Satu kali ia mengayuh bak mandi sekuat tenaga tetapi jarak yang membentang seakan memakan bak mandi itu bahkan sebelum ia sampai di pertengahan.
Pengalaman-pengalaman inilah yang menempanya dan membuatnya menjadi kuat. Saking kuatnya, ia pun berubah menjadi beringas. Konsekuensi hidup telah membuatnya jauh sekali dari Jaya yang sebelumnya... yang sesungguhnya.
Perubahan ini membuat Johan sadar dan mulai menelusuri keberadaan Jaya dari surat-surat yang kerap dikirim istrinya selama 12 tahun lamanya. Surat-surat yang masih tertata rapi di dalam amplop yang tertutup rapat hingga hari itu.
Tapi apakah Jaya masih mau menerima bahkan mengakui Johan sebagai ayah kandungnya? Itu adalah tugas baru Johan untuk kembali menjadi manusia yang mengindahkan norma dan moral, untuk menjadi seorang ayah yang baik bagi Jaya.

***

Banyak isu sosial yang diangkat dengan simbolisasi-simbolisasi. Seperti sumpal telinga yang selalu dikenakan Johan setiap malam sebelum tidur, sebagai wujud ketidakpeduliannya terhadap peristiwa di luar kubik nyamannya. Atau pun kehadiran Bandi, asisten Johan yang tuna rungu tapi justru lebih bawel daripada Johan. Hingga isu anak di bawah umur yang pernah menjadi sorotan ILO beberapa tahun silam.
Memang ini bukan kisah nyata, tetapi usaha mereka untuk membuatnya senyata mungkin patut untuk diacungi jempol.
Bila film cinta telah membuat Anda muak dan menumbuhkan antipati dalam diri, melihat interaksi ayah dan anak ini akan mencairkannya kembali dengan menghadirkan bentuk cinta yang sesungguhnya, secara sederhana, tanpa rekayasa.

Bila tiba saatnya hadir di bioskop, 12 Maret 2009, saya pasti akan kembali mengantri dan menikmatinya sekali lagi.

2 komentar:

  1. Wah! Bagus ya sepertinya. Kudu punya. Apa ada bajakannya. Halah!
    Eh, yoe, ini film buatan Indonesia?
    Jadi peranasan...
    Hhehhehe

    ::son of mount malang::

    BalasHapus